Menariknya Konten Menggunakan Teknik Clickbait

Akhir-akhir ini (sebenarnya sudah lama juga sih) teknik Clickbait atau dalam postingan ini saya menyebutnya Clickbait Technique tengah menjadi trend di kalangan penulis terutama penulis yang bertujuan untuk mencari traffic dari pengunjung maupun pembaca. Teknik Clickbait begitu digemari oleh penulis karena memanfaatnya kebiasaan orang indonesia yakni MALES BACA.

Sebenarnya apa sih arti Clickbait itu sendiri? Menurut bahasa sendiri Clickbait berarti umpan klik, akan tetapi clickbait sering diartikel sebagai “Jebakan klik” yang berarti apa yang anda klik itu berisi jebakan atau hal yang bisa merugikan anda, mungkin dalam bentuk informasi yang tidak nyambung dan lain sebagainya.

Menurut Urban Dictionary, Jebakan Klik atau Clickbait adalah link (tautan) yang menarik perhatian mata (eyecatching link) di website yang mendorong orang untuk mengklik dan membacanya.

Mungkin banyak arti tentang Clickbait ini dan setiap orang yang menulisnya mungkin berbeda dalam mengambil definisi Clickbait. Namun tetapi intinya Clickbait judul yang menarik perhatian manusia untuk mengeklik dan membacanya, akan tetapi isi dari kontennya tidak seperti apa yang diharapkan.

Clickbait adalah konten yang menggunakan judul yang hiperbola, membelalakan mata, atau berhubungan dengan seks padahal tidak ada kaitannya sama sekali dengan konten. Biasanya, kata-kata yang digunakan pun tidak jauh-jauh dari embel-embel misalnya, “ASTAGA!”, “HEBOH”, atau frasa yang sensitif. (sumber: Techinasia)

Clickbait ini sebenarnya sudah lama sekali berkembang dalam dunia jurnalistik, terutama yang berkecimpung di dalam media online. Di Eropa dan Amerika yang media online lebih dulu berkembang dibandingkan Indonesia, sudah mencuat beberapa tahun yang lalu bahkan saat di Indonesia masih banyak yang menggunakan koran untuk mencari berita. Tetapi teknik clickbait ini sangat populer di kejurnalistikan dunia dalam dua tahun terakhir ini.

Terutama sejak media online The Guardian memuat artikelnya “In Defence of Clickbait”, bertebaran banyak kritik tertulis atas upaya beberapa media internasional “menjebak” pembaca mereka untuk membuka tautan berita, dengan semata-mata mengandalkan judul sensasional.

Apa alasan Jurnalis sangat gemar menggunakan teknik Clickbait?

Alasan utamanya karena selama ini sangat ampuh mendatangkan pembaca dan terutamanya masalah traffic. Pembaca lebih sering berasal dari konten yang judulnya menggunakan teknik clickbait dibandingkan dengan judul berita pada umumnya. Hal itu semua dikarenakan sifat manusia yang lebih mudah penasaran terhadap apa yang heboh dan mungkin jarang diketahuinya.

Judul yang menarik perhatian cenderung akan membuat orang penasaran dan pastinya akan di klik dan mau tidak mau pembaca akan membaca dari konten tersebut. Dan biasanya pembaca akan merasa tidak puas dengan konten itu karena mungkin isinya tidak sesuai dengan judulnya. Dan bahkan lebih parahnya di dalamnya adalah berita Hoax yang akhir-akhir ini menjadi trending topic di Indonesia dengan hastag #TurnBackHoax.

Masalah clickbait ini juga disinggung oleh Polri yang berada pada divisi Cyber Crime saat deklarasi Turn Back Hoax di Senayan beberapa hari yang lalu. Menurutnya media yang menggunakan teknik clickbait biasanya adalah media abal-abal yang tidak bisa memberikan bukti tentang kebenaran berita yang disampaikan. Bahkan Kemkominfo sempat merilis 40.000 situs website abal-abal dan kebanyakan dari mereka juga menggunakan teknik Clickbait.

Tetapi jika dibilang yang menggunakan teknik clickbait ini adalah media abal-abal menurut saya tidak juga. Karena banyak sekali media besar contohnya seperti Liputan6, Tribunnews, Detikcom, Merdeka.com, VivaNews, dan lain sebagainya yang penulisnya juga masih menggunakan teknik clickbait.

Jika anda tidak percaya berikut saya tampilkan Screenshoots dari media-media besar tersebut yang menggunakan teknik clickbait.

Clickbait

Teknik clickbait

Teknik clickbait

Dan masih banyak lagi postingan dari berbagai media yang menggunakan teknik clickbait bahkan ada yang tidak nyambung sama sekali dengan apa yang diberitakan.

Intinya Clickbait adalah penguatan pada judul agar lebih menarik dan mengundang klik dari banyak orang.

Ciri-ciri artikel Clickbait

Menggunakan judul mencengangkan / sensasional

Cara ini biasanya digunakan untuk memelintir judul agar sensasional padahal kontennya biasa-biasa. Dan pastinya bertujuan agar menarik dan banyak yang ngeklik.

Judul tidak sesuai isi (misleading)

Ketika ada berita berjudul “Ini dia Tanggapan Kapolri Soal GMBI ” padahal dalam faktanya partai Kapolda saja belum berbicara apa-apa, maka judul artikel tersebut dikategorikan misleading, atau kasarnya menyesatkan pembaca. (lebih ke berita hoax ya) Sama halnya dengan tulisan “Begini Cara Memuaskan Wanita” yang memanfaatkan dorongan orientasi seksual pembaca, meski isinya hanya membahas tas, bioskop, dan gadget

Menggunakan kata bombastis

Penggunaan kata-kata atau frasa tertentu seperti ‘Wow!’, ‘Heboh!’, atau ‘Jangan Baca Ini!’ termasuk kategori jebakan klik. Tidak jarang berita-berita “wow” tersebut sebenarnya berisi informasi yang biasa saja, tidak berdasar fakta, bahkan pandangan pribadi. Belakangan, media sosial bahkan menggunakan “Breaking News” dan “Stop Press” untuk isi tulisan yang sebenarnya tidak benar-benar penting

Kurang Data / Data Palsu

Sebaiknya jika memungkinkan mencari banyak alternatif berita atau artikel, selalu andalkan tulisan-tulisan yang memuat data, grafik dengan sumber jelas lebih baik. Di luar kolom berita, ada perbedaan jelas antara artikel opini dengan suara. Artikel opini selalu melandaskan argumentasi dengan fakta dan data, sementara Suara ibarat suara pembaca, akrab dengan kata-kata “menurut saya” atau “seharusnya”, tidak jarang dibubuhi banyak tanda seru (!).

Menarik perhatian segmen pembaca tertentu

Pernah membaca judul-judul artikel dengan bubuhan tanda-tanda ini: (18+), (Khusus Dewasa), atau (Yang Merokok Jangan Baca!)? Pada kenyataannya, artikel-artikel publik semacam ini tidak bisa mengatur siapa yang membaca dan apa yang dibacanya

Tanda kutip

Pasti sering Anda menemukan judul berita dengan kata-kata bertanda kutip (“..”). Menelikung prasangka pembaca dengan berita yang tidak sebenarnya. Mungkin dimaksudkan untuk memunculkan arti kiasan pada judul, tapi cara ini tidak selalu  berhasil. Segmen pembaca yang terbagi-bagi dari cerdas, kurang cerdas, hingga pembaca pemula memungkinkan terjadinya jebakan berita.

Judul dilebih-lebihkan

Cara ini termasuk yang paling sering digunakan; biasanya akrab dengan kata-kata seperti ‘tercantik’, ‘terkaya’, ‘paling’, semua kata superlatif. Di dalam isi artikelnya, “orang itu” tidak benar-benar paling cantik/kaya.

Elipsis

Penggunaan tanda baca elipsis (…) biasanya muncul di berita-berita koran Indonesia yang akrab dengan kata ini: asal. “Demokrat akan dukung pemerintahan, asal…”. Meski jenis judul berita ini tidak selalu bertujuan menjebak pembaca, tetap ada kesan editor memanfaatkan rasa penasaran pembaca, bahkan ketika “jawaban” yang dimaksud di isi berita hanya berupa candaan.

Hiperbola yang over

Penggunaan judul serta konten yang penuh dengan makna dan bukan merupakan arti yang sebenarnya sangat banyak digunakan dalam teknik clickbait ini. Judulnya biasanya sangat lebay dan dilebih-lebihkan agar menarik untuk dibaca. Contohnya saja seperti judul “Gedung Pencakar Langit yang Ambruk Membuat Warga Sekitar Nangis Darah”. Nah disana ada kata “Gedung pencakar langit” dan “nangis darah” itu digolongkan ke dalam majas hiperbola. Meskipun majas hiperbola ini sangat biasa digunakan dalam dunia jurnalistik namun ketika penggunaannya berlebih-lebihan dan terkesan lebay akan membuat naluri manusia tertarik untuk mengeklik itu. Namun teknik kadang bisa buat blunder karena tidak semua manusia suka dengan judul yang over lebay.

Itulah ciri-ciri konten yang menggunakan teknik clickbait atau saya sebut sebagai clickbait technique (sok inggris :D). Mungkin clickbait ini ada manfaatnya sebagai jurnalistik karena bisa mendatangkan pengunjung yang begitu banyak tetapi juga banyak sekali sisi negatifnya karena banyak jurnalis juga yang bilang itu sebagai “konten sampah” (saya juga sebenarnya :D).

Tetapi meskipun begitu juga masih banyak sekali jurnalis lokal, nasional, maupun internasional yang menggunakan teknik ini meskipun mereka juga mengakui sebagai konten sampah. (saya juga seperti demikian 😀 munafik sekali ya :D).

Namun saya akui saya saat ini tengah gemar membuat artikel dengan clickbait technique karena saya saat ini berkecimpung di dunia kepenulisan di UC News yang itu saya gunakan agar banyak traffic dan pengunjung. Tetapi ingat bagi anda yang main SEO bahwa teknik clickbait ini tidak berguna karena sama sekali tidak SEO Friendly dan jarang sekali orang yang mencari di Google tentang berita yang viral, kebanyakan mencari tentang cara, tutorial, tips, ataupun informasi lainnya.

Berikut adalah screenshoot beberapa artikel saya di UC News yang menggunakan teknik clickbait ini.

Teknik clickbait

teknik clickbait

Demikian artikel dari saya tentang teknik clickbait atau clickbait technique. Terserah anda mau menggunakan teknik clickbait atau tidak dan memandang clickbait seperti apa, namun yang jelas konten yang menggunakan teknik ini akan disebut sebagai “konten sampah”. (Gapapa sampah yang penting traffic deres :D). Ayo mari berdiskusi di komentar karena memang jujur pembahasan saya tentang clickbait ini menurut saya pembahasan paling menarik dan pembahasan saya paling niat karena sangat jarang sekali saya menulis bisa sampai hampir 1400 kata.

Referensi : Kompasiana, Techinasia

Sekian dan terimagaji.

%d blogger menyukai ini: